Review mata kuliah Psikologi Sosial

PEMBAHASAN

Sikap dan Perilaku
Kreatif dan Kritis Sikap dan perilaku kreatif dan kritis dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu: proses, pribadi, lingkungan, dan produk. Dilihat dari proses, mahasiswa diharapkan mampu melaksanakan tugas-tugas yang sifatnya divergen, yang ditandai dengan adanya ketertarikan untuk berdiskusi, mampu menyelesaikan masalah, mampu menyelesaikan tugas, mampu bekerjasama, dan mampu menyelesaikan persoalan yang bersifat menantang.
Selain itu, mahasiswa juga harus mampu mengidentifikasi dan memecahkan masalah serta ada kebaruan dalam solusi yang ditawarkan.Dilihat dari sudut pribadi, mahasiswa diharapkan memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas yang menjadi tanggung jawabnya yang ditandai dengan disiplin dan daya juang yang tinggi. Dilihat dari aspek produk, mahasiswa diharapkan dapat menghasilkan karya/produk (baik konsep maupun benda) yang inovatif dan ditandai kebaruan (novelty), kemenarikan, dan kemanfaatan.
Kooperatif
Sikap kooperatif terkait dengan kemampuan untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan kelompok yang ditandai dengan keinginan untuk berkontribusi dalam kelompok, tidak mendominasi kelompok, dan memberi kesempatan orang lain untuk berpartisipasi. Sikap kooperatif juga terkait dengan kemampuan berkomunikasi yang ditandai sikap asertif (mampu menyampaikan pikiran, perasaan, dan keinginan tanpa merugikan pihak lain); mampu berkomunikasi secara lisan, tertulis, verbal, nonverbal secara jelas, sistematis tidak ambigu; menjadi pendengar yang baik; merespon dengan tepat (sesuai dengan substansi dan caranya); dan dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik.
Selain itu, sikap kooperatif juga terkait dengan kemampuan membangun sikap saling percaya (trust). Sikap ini ditandai dengan adanya komitmen dan disiplin yang bersifat terbuka dalam menerima pendapat orang lain (openness), berbagi informasi (sharing), memberi dukungan (support) dengan cara elegant dan gentle, menerima orang lain (acceptance) dengan tulus, terampil mengelola konflik, mampu mengubah situasi konflik menjadi situasi problem solving, serta jeli dalam mengkritisi ide/gagasan dari orang lain dan bukan mencela orangnya (personal).

Etis
Sikap etis dalam etika pergaulan baik akademik maupun dalam kehidupan sehari-hari ditandai dengan sikap jujur, berpikir positif, bertatakrama, dan taat hukum. Sikap jujur ditandai dengan tidak melakukan plagiat, berani mengakui kesalahan dan menerima diri apa adanya, tidak ragu-ragu mengapresiasi orang lain, tidak melakukan pemalsuan (termasuk tanda tangan presensi kuliah, pembimbingan, dan urusan administrasi lainnya), membangun dan mengembangkan sikap saling percaya di antara sivitas akademika, serta mampu menyampaikan pendapat sesuai dengan fakta (data).
Berpikir positif ditandai dengan adanya sikap adil dan objektif (tidak apriori terhadap orang atau kelompok lain), toleransi/apresiasi (menerima dan menghargai keragaman atau perbedaan, termasuk perbedaan pendapat), dan dapat bekerjasama dengan semua orang (tanpa melihat perbedaan latar belakang suku, agama, ras, atau golongan). Sikap bertatakrama ditandai dengan bertutur kata santun yang tetap berpikir kritis (santun dalam berargumen, misalnya ditunjukkan dengan penggunaan istilah, salam, maaf, permisi, terima kasih); berpenampilan dan berperilaku sopan baik dalam tingkah laku maupun tatacara berpakaian (bersih, rapi, dan atau menutup aurat bagi yang merasa perlu); serta menghormati tradisi serta norma masyarakat lokal/setempat.
Sikap taat hukum ditandai dengan sikap dan perilaku mematuhi peraturan walaupun secara fisik tidak ada yang mengawasi; tidak mengkonsumsi minuman keras dan atau narkoba; tidak memiliki barang illegal; tidak melakukan perusakan lingkungan hidup (bioetik); menolak budaya instan (jalan pintas) yang mendorong pelanggaran akademik (menyontek, menjiplak tugas/karya tulis, melakukan perjokian, dan suap-menyuap); serta tidak melakukan perbuatan yang merugikan negara, lembaga, atau orang lain.

KAJIAN EMPIRIS
Foxall menemukan bahwa ada empat kemungkinan hubungan antara sikap dengan perilaku. Pertama, sikap mempengaruhi perilaku jadi kalau seseorang tidak setuju korupsi maka dia tidak akan korupsi. Kedua, perilaku mempengaruhi sikap, artinya seseorang yang tidak melakukan poligami misalnya berarti tidak setuju adanya poligami. Ketiga sikap dan perilaku saling reprosity atau saling mempengaruhi, sama saja misalnya seseorang yang bersikap apatis terhadap perjudian dia akan berkemungkinan besar berjudi begitu pula sebaliknya. Keempat,antara sikap dengan perilaku tidak ada hubungannya,jadi apakah sikap seseorang terhadap ideologi suatu partai politik tidak mempengaruhi tindakannya terhadap parpol tersebut.

Seorang ilmuwan bernama La Piere dalam sebuah studinya pada tahun 1934 menemukan inkonsistensi antara sikap dengan perilakunya. Dalam penelitiannya tersebut, dia membawa sepasang imigran Cina untuk berkeliling ke 251 baik hotel, restauran maupun sarana jasa lainnya. Dari kesemuanya hanya 1 yang menolak karena alasan ras. Beberapa waktu kemudian La Piere mengirimkan kuesioner kepada 251 sarana jasa tersebut, menanyakan apakah mereka/sikap memberikan pelayanan kepada imigran Cina, hasilnya cukup mencengangkan, dari 128 responden yang mengembalikan kuesioner, 90% menyatakan menolak memberikan pelayanan kepada imigran Cina tersebut.
Untuk memahami tingkah laku manusia diperlukan bantuan berbagai macam ilmu pengetahuan. Ilmu fisiologi, mempelajari tingkah laku manusia, dengan menitik beratkan sifat-sifat yang khas dari organ-organ dan sel-sel yang ada dalam tubuh. Sedangkan sosiologi, mempelajari bentuk-bentuk tingkah laku dan perbuatan manusia dengan menitik beratkan pada masyarakat dan kelompok sosial sebagai satu kesatuan, dan melihat individu sebagai bagian dari kelompok masyarakat ( keluarga, kelompok sosial, kerabat, clan, suku, ras, bangsa). Di antara dua kelompok ilmu pengetahuan ini berdiri psikologi, yang membidangi individu dengan segala bentuk aktivitasnya, perbuatan, perilaku dan kerja selama hidupnya (Kartini, K., 1980). Selanjutnya Kartini menyatakan, bahwa fisiologi memberikan penjelasan mengenai macam-macam tingkah laku lahiriah, yang sifatnya jasmani. Sedangkan manusia merupakan satu totalitas jasmani-rohani. Psikologi mempelajari bentuk tingkah laku (perbuatan, aktivitas) individu dalam relasinya dengan lingkungannya.
Dari pemahaman diatas, terlihat bahwa betapa mempelajari sikap dan perilaku manusia sangat penting, agar tercipta hubungan yang baik dengan lingkungan sekitarnya.
Faktor-faktor lingkungan terhadap perkembangan emosi
Manusia mempunyai kemampuan yang besar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Keadaan mental maupun emosionil dari seorang ibu hamil dapat mempengaruhi perkembangan anak yang dikandungnya. Keadaan tegangan yang akut maupun kronis dapat merambat melalui sistem hormonal ke plasenta. Efek ini dapat bersifat sementara, tetapi mungkin juga mempunyai pengaruh yang lama (Anna, Sidharta, Brouwer, 1980).
Mengapa orang tua sering menganjurkan agar wanita hamil megusahakan ketenangan, dengan lebih banyak berdoa dan sholat, hal ini dimaksudkan agar sang bayi lahir selamat dan menjadi anak yang baik dalam kehidupan selanjutnya. Banyak juga yang mulai melatih diri dengan mendengarkan musik, dan wanita hamil harus selalu rajin membersihkan badan, yang hal-hal ini dipercaya dapat mempengaruhi sifat/karakteristik bayi nantinya.
Sampai dengan anak beranjak dewasa, orangtua tetap harus dapat memberikan pendampingan dan ketenangan pada anak, karena secara langsung anak akan belajar dari orang tua, bagaimana orangtua menyelesaikan masalah yang dihadapi. Ketenangan orangtua dalam menyelesaikan masalah akan mengesankan si anak, dan kemudian si anak akan mencoba melakukan hal yang sama jika menghadapi masalah serupa.
Dari sekeliling kita, dapat dilihat bahwa anak-anak yang dibesarkan dari ayah ibu yang penuh kasih sayang, akan menjadi anak yang lebih baik dari kematangan emosi, dibanding dengan anak yang dibesarkan dari keluarga berantakan.
Apakah pendidikan dan faktor lingkungan dapat memperbaiki tingkah laku?
Jawabannya adalah ya, karena apabila sejak anak dalam kandungan orangtua telah berperilaku baik, dilanjutkan dengan pendidikan yang sesuai, serta mempunyai pengaruh lingkungan yang baik, maka diharapkan si anak akan nyaman berada pada pengaruh faktor lingkungan yang baik ini. Faktor lingkungan apa yang baik? Hal ini bisa diperdebatkan. Dalam suatu diskusi dengan seorang teman, dia menyatakan bahwa anaknya berperilaku baik, santun, namun menurutnya anaknya terlalu steril. Mengapa demikian? Karena sejak lahir, si anak tumbuh dalam lingkungan kompleks perumahan yang dijaga satpam 24 jam, karena orangtuanya mendapatkan fasilitas rumah dinas. Hal ini berbeda dengan si ayah, yang merupakan ”anak kolong”. Si ayah berani memanjat, mendapat banyak luka di kaki dan tangan….sedang si anak kulitnya mulus, walaupun anak tersebut tidak ada celanya. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sifat dan perilaku anak.

KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa sikap dan perilaku manusia dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor,diantaranya adalah faktor lingkungan.Sikap dan perilaku mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda haruslah memiliki sikap dan perilaku kreatif, kritis, kooperatif, dan etis. Hal ini sangat dibutuhkan untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat di era global seperti ini.Oleh karena itu,sikap dan perilaku mahasiswa haruslah didasari pada rasa tangggung jawab yang ditandai dengan disiplin dan daya juang yang tinggi. Sehingga mahasiswa diharapkan mampu melaksanakan tugas-tugas yang sifatnya divergen, yang ditandai dengan adanya ketertarikan untuk berdiskusi, mampu menyelesaikan masalah, mampu menyelesaikan tugas, mampu bekerjasama, dan mampu menyelesaikan persoalan yang bersifat menantang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar